Jurnalmasyarakat.com, Buton- Tingkat kemiskinan Kabupaten Buton mengalami trend menurun tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Buton dari sisi presentasi angka kemiskinan tahun ini sebesar 13,46 persen, menurun sebesar 0,53 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar 13,99 persen.
Data BPS juga menunjukkan bahwa kemiskinan mengalami peningkatan selama tiga tahun berturut-turut atau sejak tahun 2022 sampai 2024. Kendati tahun ini mengalami penurunan, namun di bandingkan dengan daerah lain, Kabupaten Buton berada di urutan ke-3 termiskin se- Sulawesi Tenggara setelah, Buton Selatan 13,64 persen dan Konawe Kepulauan 14,42 persen.
“Tahun 2022, 2023, 2024 meningkat terus tiga tahun berturut-turut. Tahun 2025 posisi bulan Maret sudah mulai menurun sedikit. Tetapi presentasi miskinnya tertinggi ketiga di Sultra,” ujar Kepala BPS Kabupaten Buton, Zablin, SST., M.Si press rilis bersama sejumlah awak media di Ruang Rapat BPS Buton, Selasa (28/10).

Zablin mengungkapkan program bantuan atau subsidi pemerintah pusat yang menambah pendapatan masyarakat berkontribusi bagi turunnya angka kemiskinan tersebut. Adapun untuk sektor lainnya seperti pertambangan maupun pertanian belum terlalu berdampak.
Lebih lanjut Zablin mengatakan, banyak hal yang menyebabkan masih tingginya angka kemiskinan di Buton. Untuk itu, Pemerintah daerah diharapkan dapat menyelaraskan program pemerintah pusat dengan daerah, salah satunya pemantapan program MBG.
“Perlu diketahui 2/3 biaya MBG untuk kebutuhan bahan baku, jika daerah kita mensuplai dari daerah luar maka masyarakat yang rugi. 30 persen anggaran dari pusat untuk MBG,” katanya.

Selain itu, Zablin menambahkan, tahun 2025 capaian pertumbuhan ekonomi menurut lapangan usaha sampai dengan triwulan ll PDRB nya mencapai 2,56 persen masih jauh dari pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5 persen.
“Pada triwulan II 2025 pertumbuhan ekonomi capai 2,56 sementara nasional pertumbuhan ekonominya 5,12 persen,” sebutnya.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tersebut dapat dilakukan melalui berbagai strategi, seperti peningkatan investasi, pengembangan sektor unggulan, maupun mengembangkan kembali sektor-sektor industri yang sudah lama fakum seperti industri perbuatan sambal yang ada di Kapontori dan pabrik rumput laut di Wakalambe dan IKM di Desa Holimombo. (Rin)



















